Jumat, 31 Maret 2017

Anak yang Dekat Sama Ayah Punya IQ Lebih Tinggi, Punya Banyak Teman, dan Percaya Diri Saat Dewasa

 
Mengasuh anak yang berperilaku baik dan berprestasi, memang membutuhkan peran dan waktu yang diberikan oleh ibu.
Namun pengaruh dari figur seorang ayah dalam membimbing anak juga merupakan kunci utama dalam pase tumbuh kembang anak.
Sebuah studi bahkan menyatakan bahwa kedekatan ayah pada anaknya dapat mendongkrak kecerdasan dan kesuksesan si kecil di masa depan.

Selama empat dekade penelitian dan ratusan penelitian telah membuktikan, ayah yang ikut membantu ibu mengasuh, menjaga, dan membesarkan anak memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi sekolah anak.
Selain itu, kehadiran ayah juga menentukan perkembangan pribadi serta karakter anak dalam lingkungan sosial.

Sebuah tinjauan studi yang dilakukan oleh Father Involvement Research Alliace menunjukkan bahwa bayi yang dekat dengan ayah cenderung memiliki emosi yang stabil.

Saat dewasa dia lebih percaya diri, dan bersemangat dalam mengeksplorasi potensi diri untuk merealisasikan ide serta impian.
Kemudian, dalam lingkungan pergaulan, anak yang dekat dengan ayah cenderung lebih mudah bersosialisasi.

Mereka juga memiliki banyak teman karena dianggap menyenangkan.
Lalu, fakta lain yang perlu dipertimbangkan oleh para ayah agar lebih dekat dengan sang buah hati adalah anak berusia tiga tahun yang memiliki huhungan baik serta hangat dengan ayah memiliki kemampuan memecahkan masalah dan IQ lebih tinggi dari teman seusianya


Sumber: intisari-online.com

Selasa, 28 Maret 2017

TIPS Menata Interior dengan Warna

 
TIPS Menata Interior dengan Warna
Hindari 5 Warna ini untuk Interior pada Rumah
Rumah yang nyaman bisa diciptakan salah satunya dengan warna cat interiornya.
Namun, berikut beberapa warna yang sebaiknya kamu hindari untuk warna interior rumah, yang berminat yuk disimak yuk...

1. Warna orange
Warna orange sering sekali kita temui ada pada furniture atau aksesori yang menghiasi rumah. Tapi untuk warna interior terutama dinding dan atap, sebaiknya kamu hindari. Warna orange terlalu tegas dan mendominasi, sehingga tidak cocok dipadukan dengan warna lain.

2. Warna peach
Meskipun memiliki tone yang ceria dan terang, warna peach atau warna buah persik dianggap tidak bagus untuk warna interior rumah. Warna peach yang diaplikasikan pada dinding dan dipadukan dengan warna lain akan menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan.

3. Warna pastel
Warna pastel bukanlah warna yang tepat untuk digunakan sebagai warna interior rumah. Warna ini memberi kesan terlalu lembut sekaligus pucat. Warna pastel akan memberi kesan kuno dan muram pada sebuah ruangan.

4. Warna merah terang
Sama halnya dengan orange, warna merah terang dianggap terlalu terang dan mendominasi. Warna ini sulit dikombinasikan dengan warna lain karena akan menutupi keindahan warna lainnya.

5. Warna kuning
Dalam psikologi warna, warna kuning pada dinding atau atap akan membuat orang yang melihatnya merasa gelisah. Warna ini dianggap terlalu terang dan cerah sehingga membuat beberapa orang tidak nyaman saat melihatnya. Tapi jika diaplikasikan pada pakaian atau benda lainnya dengan proposional yang lebih sedikit, warna kuning akan terlihat sangat menarik.

Terimakasih...

Sumber: Oleh Esa Sadelih

Sabtu, 25 Maret 2017

SIAPA PENGHUNI BUMI SEBELUM ADAM

 
Nabi Adam A.S. adalah Manusia pertama yang hidup dimuka bumi. Menurut ahli arkeologi pula, terdapat mahkluk lain yang hidup di permukaan bumi sebelum manusia. Adakah makhluk lain yang hidup di muka bumi sebelum Nabi Adam A.S. @ manusia? Nak tahu makhluk apa? Sebelum tu, mari kita lihat dulu kisah penciptaan Nabi Adam A.S.

Wujud Adam Menurut Islam
Adam (Ibrani: אָדָם; Arab:آدم, bererti tanah, manusia, atau cokelat muda) (sekitar 5872-4942SM) adalah dipercaya oleh agama-agama Samawi sebagai manusia pertama, bersama dengan isterinya yang bernama Hawa. Menurut Agama Samawi pula, merekalah orang tua dari semua manusia yang ada di dunia. Perincian kisah mengenai Adam dan Hawa berbeza-beza antara agama Islam, Yahudi, Kristian, maupun agama lain yang berkembang dari ketiga agama Abrahamik ini.

Adam hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM), sedangkan Hawa dijadikan ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah ayat 30-38 dan Al-A’raaf ayat 11-25. Ia mendapat gelar dari Allah dengan gelar Safi Allah.

Menurut ajaran Islam, Adam adalah manusia sempurna, berjalan tegak dengan kedua kakinya, berpakaian yang menutup aurat, berbahasa fasih dengan jutaan kosa kata. Dia adalah seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah serta syariat khusus untuk manusia saat itu.

Susuk Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia adalah makhluk penghuni surga yang penuh peradaban maju. Turun ke muka bumi boleh dikatakan sebagai alien dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan jauh lebih cerdas. Kerana itulah disebut sebagai `khalifah` di muka bumi dan ia dikatakan jenis makhluk terbaru di muka bumi yang sebelumnya belum pernah ada.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al Israa' ayat 70, yang berbunyi:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”(Al Israa' : 70)

Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi:
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (At Tiin : 4)

Dahulu ketika baru selesai diciptakan, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran kecerdasannya itu. Kecerdasannya menjadikannya makhluk yang punya darjat amat tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari gambaran manusia purba Charles Darwin, yang digambarkan berjalan dengan empat kaki dan menjadi makhluk purba berpakaian seadanya. 


▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Penciptaan Adam
Setelah Allah SWT. menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni, mengisi, serta memelihara bumi tempat tinggalnya. Saat Allah memberitahu para malaikat akan kehendak-Nya untuk menciptakan manusia, mereka khuatir makhluk tersebut nantinya akan membangkang terhadap ketentuan-Nya dan melakukan kerusakan di muka bumi. Berkatalah para malaikat kepada Allah:
“Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
(Al-Baqarah : 30)

Allah kemudian berfirman untuk menghilangkan keraguan para malaikat-Nya:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Al-Baqarah : 30)

Lalu diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuk sedemikian rupa. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna. Awalnya Nabi Adam a.s. ditempatkan di syurga, tetapi terkena tipu daya iblis kemudian diturunkan ke bumi bersama istrinya kerana mengingkari ketentuan Allah.

Adam diturunkan dibumi bukan karena mengingkari ketentuan, melainkan dari sejak akan diciptakan, Allah sudah menunjuk Adam sebagai khalifah di muka bumi. jadi meskipun tidak melanggar ketentuan (Allah) adam akan tetap diturunkan kebumi sebagai khalifah pertama.

Adam merupakan nabi dan juga manusia pertama yang bergelar khalifah Allah yang dimuliakan dan ditinggikan derajatnya. Ia diutus untuk memperingatkan anak cucunya agar menyembah Allah. Di antara sekian banyak anak cucunya, ada yang taat dan ada pula yang membangkang. 


▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Persoalan Makhluk Sebelum Adam
Menurut syariat Islam, manusia tidak diciptakan dibumi, tapi manusia dijadikan khalifah (pengganti/penerus) di bumi, sebagai makhluk pengganti yang tentunya ada makhluk lain yang di ganti, dengan kata lain adalah Adam 'bukanlah Makhluk Pertama' dibumi, tetapi ia adalah 'Manusia Pertama' dalam ajaran Agama Samawi, dan Allah tidak mengatakan untuk mengganti manusia sebelumnya, tapi pengganti makhluk yang telah membuat kerusakan dan menumpahkan darah dibumi.

Sebelum kehadiran manusia telah banyak umat yang terdiri malaikat, jin, haiwan, tumbuhan dan sebagainya, kerana dalam Al-Qur'an ciptaan Allah disebut juga dengan kata umat. Sesuai dengan salah satu surah Al An'aam 32, yang berbunyi:
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (Al An'aam : 32)

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Menurut Arkeologi
Dari ayat Al-Baqarah 30, banyak mengundang pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat kerosakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat di atas. Dalam kajian Arkeologi, berdasarkan fosil yang ditemukan, memang ada makhluk lain sebelum manusia. Mereka nyaris seperti manusia, tetapi memilki karakteristik yang sangat primitif dan tidak berbudaya.

Volume otak mereka lebih kecil dari manusia, oleh kerana itu, kemampuan mereka berbicara sangat terbatas karena tidak banyak suara vowel yang mampu mereka bunyikan. Kelompok makhluk ini kemudian dinamakan oleh para arkeolog sebagai Neanderthal.

Sebagai contoh Pithecanthropus Erectus memiliki volume otak sekitar 900 cc, sementara Homo sapiens memiliki volume otak diatas 1000 cc (otak kera maksimal sebesar 600 cc). Maka dari itu bisa diambil kesimpulan bahwa semenjak 20,000 tahun yang lalu, telah ada susuk makhluk yang memiliki kemampuan akal yang mendekati kemampuan berfikir manusia pada zaman sebelum kedatangan Adam.

Penafsir Al-Qur'an dan Hadis
Surah Al Hijr ayat 27 menjelaskan tentang makhluk sebelum manusia adalah bangsa Jin:
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al Hijr : 27)

Mengenai penciptaan Adam sebagai khalifah di muka bumi diungkapkan dalam Al-Qur'an:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”
(Al-Baqarah : 30)

Nama makhluk yang diungkapkan para ahli arkeologi diatas kemudian dikaitkan pada pendapat para ahli mufassirin. Salah satu diantaranya adalah Ibnu Jazir, dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan:
"Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam diciptakan adalah Al-Jan yang suka berbuat kerusakan."

Menurut salah seorang perawi hadis yang bernama Thawus al-Yamani, salah satu penghuni sekaligus penguasa/pemimpin di muka bumi adalah dari golongan jin. Ada juga yang mengatakan bahwa telah ada 3 umat yang utama sebelum Adam. Dua diantaranya dari bangsa jin, sedangkan kaum yang ketiga adalah dari golongan yang berbeza dari jin, kerana mereka ini berdarah dan berdaging. Golongan ketiga ini adalah mereka yang dimaksudkan sebagai “man yufsidu feehaa wa yasfiku al-dimaa’: golongan yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah” seperti yang diulas oleh Malaikat di dalam ayat al-Quran 2: 30. Ini pendapat yang dilontarkan oleh Al-Maqdisi.

sumber: http://bjue.blogspot.co.id/


Senin, 20 Maret 2017

Hati yang Hidup

 
  (HR Muslim).
Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan perbuatan kalian”
Hadits ini begitu berkesan di hati para sahabat dan generasi setelahnya, sehingga mereka senantiasa menjaga hati, agar tidak terkotori dengan cara menghindari perbuatan dosa. Mereka juga selalu membersihkan hati dengan cara bertaubat manakala sebuah dosa terlanjur meninggalkan noktah hitam di hatinya.

Generasi pertama Islam, yaitu para sahabat yang hidup di masa Rasulullah Saw, memiliki hati yang hidup. Hati mereka dipenuhi keimanan yang selalu memancarkan cahaya kesegaran jiwa dan raga, sehingga mendorong mereka untuk selama melakukan ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Sampai-sampai penyakit al-wahn (cinta dunia dan takut mati) tak mampu mengotori hati mereka. Meski di antara mereka ada yang diuji dengan gelimang harta, seperti ‘Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf, akan tetapi hati mereka tak pernah terpengaruh dengan gemerlap dunia. Hati mereka terikat kuat pada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Orang-orang yang memiliki hati yang hidup sangat sensitif dengan perbuatan dosa. Bahkan mereka sering mengaitkan musibah yang menimpa dirinya dengan dosa yang pernah dilakukannya. Ubaidillah bin As-Suri mengisahkan bahwa Al-Qudwah bin Sirin (seorang tabi’in) berkata, “Aku tahu dosa apa yang membuatku dililit hutang. Empat puluh tahun lalu aku pernah berkata kepada seseorang, ‘Hai orang yang bangkrut.’” Ibnu al-Jauzi menceritakan bahwa seorang salafush shalih pernah memaki dirinya, lalu dia menempelkan pipinya ke tanah sambil berkata, “Ya Allah, ampuni dosaku. Karena dosaku, Engkau membuat orang itu memaki diriku”. Kita meyakini bahwa tak ada orang yang mampu mengingat dosa yang pernah dilakukan empat puluh tahun yang lalu, kecuali orang tersebut sedikit berbuat dosa, sehingga dia mampu menghitungnya.

Hati yang hidup akan menjadi bekal manusia di Hari Kebangkitan, ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Wallahu a’lam bish shawab.



Semoiga bermanfaat


Berfilsafat itu Mudah

 
Ketika Anda berfikir secara Filsafat,  maka Anda mencoba mencari sebab yang sedalam-dalamnya dari segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Selama pemikiran manusia bisa menjangkaunya,  walau tidak bisa diverifikasi secara empirik, maka ia menjadi objek kajian Filsafat.

Berfikir dengan jalan Filsafat hakikatnya mudah, karena kita hanya harus bertanya dan bertanya terus secara mendasar hingga ke akar.  Mengapa begini? Mengapa begitu? Dilandasi sikap kritis, tidak mudah puas dan percaya, Anda harus terus bertanya,  dan terkadang pertanyaan itu seperti lingkaran: ketika mencoba menemukan jawaban yang paling dasar hingga ke akar, kita kembali justeru ke titik awal pertanyaan kita.
Berfilsafat itu mudah, Anda hanya harus bertanya. Mempertanyakan segala sesuatu, tentang sesuatu. Begitulah sifat keingintahuan Anda semasa kecil dulu.
“Bu apa ini?”
“Ini telur, Nak,” jawab Ibu.
“Telur apa, Bu?” tanya Anda selagi kecil dulu.
“Ini telur ayam,” jawab Ibu.
“Darimana telur ayam ini, Bu?” dengan penuh keingintahuan Anda  terus bertanya.
Ibu yang sedang sibuk memasak mendadak marah. “Sudah jangan tanya-tanya, pergi main sana, nanti makan siangmu ndak kelar-kelar nih!”
Sejak itulah  Filsafat menjadi sulit bagi Anda. Karena ketika Anda bertanya , bukannya dipuji, malah dimarahi.
Tapi ini hanya sekedar ilustrasi, semoga Ibu Anda tidak seperti itu 
*
Jadi, untuk berfilsafat itu mudah: Anda hanya perlu bertanya dan menemukan jawabannya secara mendasar.
Sejak awal blog ini pun saya sudah mengajak Anda berfilsafat: bertanya dan bertanya tenang segala sesuatu yang muncul dalam bahasan kita.
Apakah Pengetahuan? Darimana kita mendapatkan pengetahuan? Apakah tandanya orang yang sudah berpengetahuan? Apakah kebenaran? Apa pula keliru? Apa sih kepercayaan? Keyakinan? Kepastian? .. dst …
Hakikatnya, kita sudah berfilsafat.
Mudah, bukan?

Semoga bermanfaat
salam sukses selalu 

Hidup Bermanfaat

 

Sudah lima tahun, saya memelihara ikan arwana di akuarium. Dia benar-benar telah menghibur keluarga saya, dengan warnanya yang menarik dan gerakan-gerakannya yang lincah.
Namun pada akhir bulan yang lalu, ikan arwana mati setelah beberapa hari tidak mau makan. Keluarga saya tidak sampai hati untuk memakan ikan yang sudah dianggap ”keluarga” itu. Saya kubur ikan tersebut dan saya panjatkan istigfar pada Allah, mohon ampun telah merampas kebebasan makhlukNya
. Saya menghayal ke masa lampau, ke zaman Nabi Sulaiman As, di mana Nabi ini, dianugerahi kelebihan bisa berbicara dengan hewan. Dalam khayalan saya, Nabi Sulaiman As jalan-jalan di dekat kolam. Ikan-ikan di kolam termasuk ikan arwana mengucapkan salam dan memperkenalkan diri padanya. “Hai, Nabi Sulaiman, saya ikan arwana. Lihat tubuh saya yang berwarna menarik dan licah bergerak serta bisa menjadi hiburan bagi orang yang mau melihatnya. Saya sangat gembira kalau Nabi Sulaiman sudi memelihara dan memakannya, atau untuk dibagi kepada teman-teman. Saya diciptakan Allah untuk melayani manusia,” demikian kata hewan yang hidup di air ini. Begitu pula halnya ikan-ikan yang lain, semuanya memperkenalkan diri dan menyatakan kegembiraannya kalau manusia mau menyayangi dan mengambil manfaat dari kehadiran mereka untuk kesejahteraan manusia.

Khayalan tersebut, menggugah qalbu saya, ternyata hewan tidak mau hidup sia-sia, semuanya ingin bermanfaat bagi manusia. Hewan, yang hanya dianugerahi naluri dan kecerdasan organnya saja, dia berusaha bermanfaat dalam hidupnya. Sebaliknya manusia yang dianugerahi Allah Swt kesempurnaan rohani dan jasmani, justru banyak yang tidak berpikir ke arah itu. Saya pun teringat do’anya Nabi Sulaiman As:
"Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (AN-NAML/27 : ayat 19)
Dalam do’anya Nabi Sulaiman As memohon diberikan kekuatan untuk dapat mengoptimalkan nikmat yang dianugerahi Allah kepada beliau dan juga kepada orang tuanya, yang begitu melimpah tidak hanya yang ada pada dirinya, tapi juga nikmat yang di alam raya dan masyarakat. Beliau memohon bantuan dan bimbinganNya agar nikmat yang dianugerahi kepadanya dapat bermanfaat tidak hanya untuk dirinya tapi juga bagi orang lain dan masyarakat.
Manusia merupakan puncak ciptaan Allah. Semesta alam diperuntukkan untuk dikelola oleh manusia, sehingga manusia diberi gelar khalifatullah atau mandataris Allah di muka bumi. Hanya saja harus kita ingat bahwa pengelolaannya harus sejalan dengan apa yang digariskanNya. 


(Suwandi/Yayasan Mujahidin Pegawai Pertanian)

TENTRAMNYA HATI

 

Keimanan seseorang seringkali berfluktuatif. Kadang-kadang iman seseorang kuat, bercahaya, lemah lembut, tetapi suatu saat terkadang hatinya kotor, lemah iman, gelap gulita, buta, keras membatu terhadap kebenaran. Orang yang hatinya kotor atau  kurang ikhlas dalam menghadapi kehidupan akan mudah digoda setan yang menjerumuskannya kepada perbuatan yang tersesat.
Banyak orang  yang sebelumnya dikenal sebagai orang yang ahli shalat dan orang baik, karena faktor lingkungan di kantornya, akhirnya  terjerumus dalam pekerjaan  yang menyuburkan praktek ”mark up”, laporan fiktif dan korupsi. Hidupnya yang dulu penuh dengan keimanan yang kuat, tapi  kini dia banyak  gelisah, takut  rahasianya ketahuan oleh  penegak hukum  atau KPK. Sebaliknya ada  orang yang dulunya keras hatinya, jauh  dari tuntunan agama, tetapi   setelah ada kejadian yang menimpa dirinya, dia menjadi orang yang sholeh.
Pertanyaan sekarang bagaimana cara mempertahankan keimanan agar keimanan kita tetap bersih? Al-Qur’an  memberikan petunjuk untuk senantiasa banyak mengingatNya, sebagaimana tercantum dalam  QS. Ar Rad (13): 28:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”  
Iman seseorang   akan menjadi usang dan rapuh jika tidak disirami dan dihiasi dengan senantiasa mengingat  Allah. Sungguh beruntung orang  yang  meraih segala apa yang diharapkannya dengan mengembangkannya mengikuti tuntunan Allah dan Rasul  serta mengendalikan hawa nafsunya. Kehidupan itulah yang menyebabkan ketentraman jiwa. Kehidupan betapapun mewahnya tidak akan baik jika tidak disertai ketentraman hati, sedangkan ketentraman hati baru dapat dirasakan bila hati yakin dan percaya bahwa ada sumber yang tidak terkalahkan  yang selalu mendampingi dan memenuhi harapan.

 (Suwandi : Yayasan Mujahidin Pegawai Pertanian).